6 Langkah Dalam Melakukan Jual Beli Lahan dan Hunian

6 Langkah Dalam Melakukan Jual Beli Lahan dan Hunian
Bentuk SHM

Urusan jual beli lahan atau rumah adalah urusan yang melibatkan dua pihak, bahkan terkadang lebih dari dua pihak. seringkali, salah satu pihak berbuat kecurangan untuk mendapatkan keuntungan lebih. atau bisa jadi, salah satu pihak menyembunyikan fakta soal kondisi lahan atau hunian yang seharusnya dibeberkan sebelum akad jual beli dilakukan. akibatnya, salah satu pihak merasa ditipu pihak lainnya.
Bagaimana agar tidak menjadi korban penipuan jual beli lahan dan hunian, berikut ini 6 (enam) langkah dan tips dalam melakukan jual beli lahan dan hunian

1.   Melakukan Pengecekan Kondisi Lahan

Melakukan pengecekan keadaan lahan adalah hal yang mutlak harus anda lakukan. cek juga kesesuaian peruntukan lahan dengan rencana tata ruang kota setempat dan perhatikan apakah lahan yang akan anda beli terkena rencana pelebaran jalan atau tidak. untuk di jakarta, anda bisa melakukan pengecekan lewat kantor pertanahan setempat

2.   Melakukan Pengecekan Sertipikat Lahan

  • Jika lahan sudah bersertipikat, langkah yang dapat anda tempuh adalah memastikan apakah lahan tersebut sudah berpindah tangan atau belum. hal ini dapat dilakukan dngan cara meminta SKPT (surat Keterangan Pendaftaran Tanah) di Kantor Pertanahan setempat.
  • Jika lahan belum bersertipikat, langkah yang harus dilakukan adalah mengecek keabsahan bukti kepemilikan. Pengecekan dapat dilakukan dengan cara meminta suart keterangan dan riwayat lahan dari lurah atau camat setempat. Cek pula batas-batas lahan sesuai dengan bukt kepemilikan yang ada.

3.   Membuat Akta Jual Beli (AJB) di PPAT

Persyaratan yang diperlukan dari pihak penjual adalah sebagai berikut :

  • Asli Sertipikat hak atas lahan yang akan dijual
  • KTP suami dan Istri yang masih berlaku
  • Bukti pembayaran Pajak Bumi Dan Bangunan (PBB) selama 5 tahun terakhir
  • Jika masih ada Hak tanggungan pada sertipikat tersebut maka harus ada surat Roya dari Bank yang bersangkutan

Persyaratan dari pihak pembeli adalah sebagai berikut:

  • KTP yang masih berlaku
  • Kartu Keluarga

4.   Melakukan Pengecekan Keaslian Sertipikat

Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT)/Notaris biasanya melakukan pengecekan keaslian sertipikat. gunanya untuk mengetahui apakah sertipikat tersebut asli. apakah sertipikat sedang dijaminkan kepada pihak lain, apakah sertipikat / lahan tersebut sedang dalam sengketa atau tidak. PPAT akan menolak membuat AJB jika lahan tersebut dalam sengketa atau sedang dijaminkan. Anda sendiri juga bisa langsung melakukan pengecekan keaslian sertipkan di kantor Pertanahan dan umumnya akan dikenai dikenakan biaya

5.   Melakukan Pengurusan Pajak

Biasanya, pengurusan pembayaran pajak dapat dititipkan kepada PPAT/Notaris. namun anda dapat membayarnya sendiri. Untuk Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) yang semula dibayarkan ke kas Negara, sekarang harus dibayarkan ke kas masing-masing pemerintah daerah melalui Dinas Pendapatan Daerah
Adapun pajak-pajak yang harus diabayarkan pada saat melakukan jual beli lahan adalah :

  • Pajak Penjual (Pph): Nilai Jual Obyek Pajak (NJOP)/harga jual x 5%
  • Pajak Pembeli/BPHTB: (NJOP/harga jual –Nilai Jual Pbejek Tidak Kena Pajak) x 5 %

6.   Melakukan Balik Nama Sertipikat Lahan

PPAT menyerahkan berkas AJB ke Kantor BPN untuk keperluan balik anama sertipikat. berkas yang diserahkan yakni surat permohonan balik nama yang ditandatangani oleh pembeli, AJB, sertipkat, KTP pembeli dan penjual. Bukti Pelunasan pembayaran pajak-pajak

Semoga bermanfaat….Bagaimana menurut anda? silahkan sampaikan pengalaman anda dalam bentuk komentar, like dan share semoga berguna bagi pembaca lainnya. Untuk berlanggangan artikel dari blog ini Like Fanspage Rumahku Istanaku atau follow my twitter @zaenal_zein.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »